Rabu, 03 November 2010

Letusan Gunung Merapi

Menyusul letusan gunung merapi yang dahsyat dan sedikitnya menelan 39 orang korban jiwa banyak mata kini juga tertuju pada aktivitas gunung api lainnya di tanah air. Pasalnya kini aktivitas 20 gunung merapi di Indonesia meningkat. Tapi apakah ada keterkaitan satu sama lainnya terkait peningkatan sejumlah gunung api itu. Berikut ulasannya.
Seperti inilah letusan Gunung Papandayan pada tahun 2002 lalu. Meski tampak namun tidak sampai menimbulkan korban jiwa, karena awan panas yang dimuntahkan tidak disertai material vulcanik dari perut gunung.

Setelah beberapa lama dalam kondisi aktif normal, kini Gunung Papandayan yang terletak di cisurupan, Garut, Jawa Barat ini kembali menunjukkan aktivitas. Badan Geologi Pusat Vulcanologi dan Nitigasi bencana geologi di pos Papandayan menaikkan status dari aktif normal menjadi waspada level 2.

Berdasarkan pemantauan di pos pengamatan Papandayan sejak kemarin hingga pagi tadi, tercatat 5 kali gempa tektonik, satu kali gempa vulkanik A, dan 11 kali gempa vulcanik B.

Hal ini dirasakan warga sekitar lereng gunung yang hanya berjarak 8 kilometer dari puncak gunung. Peningkatan aktivitas vulcanik juga terjadi pada Gunung Anak Krakatau yang kini berstatus waspada.

Hanya berselang 3 hari setelah letusan pertama merapi 26 Otober lalu, terjadi 112 kali letusan pada anak gunung krakatau di Selat Sunda.

Aktivitas kegempatan dan letusan yang terjadi hingga ratusan kali setiap harinya ternyata bukan berasal dari kawah lama tapi lebih dari kawah baru yang ada di puncak gunung.

Peningkatan aktifitas 20 gunung api di Indonesia mendapat perhatian sejumlah kalangan termasuk para ahli. Selain gunung merapi yang statusnya masih awas. Saat ini tercatat 19 gunung merapi di tanah air berstatus waspada dan dua gunung api yang lain berstatus siaga.

Berbagai pihak lalu mempertanyakan, adakah kaitan diantara peningkatan aktivitas gunung berapi dengan gempa yang diikuti tsunami di Mentawai. Namun kepala bagian Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral R Sukiah mengatakan setiap gunung memiliki sistem tersendiri dan tidak saling terhubung.

Secara teoritis gempa bisa meningkatkan aktivitas gunung berapi. Tetapi belum tentu menjadi penyebab timbulnya letusan gunung. Gempa tektonik di satu pusat gempa mengirim gelombang seimik ke segala arah. Makin jauh jarak, makin lemah gelombang yang diterima.

Sementara setiap gunung berapi memiliki recervoir atau kantung magma yang akan tertekan saat ada  sebuah gempa. Bila sebuah gempa yang kuat terjadi pada gunung dengan kantung magma penuh maka gunung akan meletus.

Sementara itu, kabar menyangkut peningkatan aktivitas 20 gunung berapi di Indonesia sempat membuat masyarakat cemas. Di Tasik misalnya meski masih berstatus aktif normal, namun warga yang tinggal di lereng Gunung Galunggung, di Tasik Malaya, Jawa Barat pekan lalu sempat waswas, menyusul beredarnya isyu gunung Galunggung aktif dan berbahaya.

Namun petugas menenangkan sambil meminta masyarakat sekitar lereng gunung tetap waspada.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar