Gempa berkekuatan 5,4 yang berpusat di dekat Ujung Kulon, Banten, tidak hanya terasa di gedung-gedung tinggi di Jakarta. Getaran gempa juga terasa kuat di Istana Wakil Presiden yang bukan gedung tinggi.
"Ada gempa," demikian teriak seorang wartawan dari media online yang saat itu sedang mengetik berita di dalam ruangan pers Istana Wakil Presiden, Selasa (5/4/2011) siang. Sekalipun sejumlah wartawan tidak berada di dalam gedung bertingkat, getaran gempa bisa dirasakan beberapa saat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat bahwa gempa bumi terjadi pada pukul 11.34 WIB dengan pusat di 7,38 Lintang Selatan dan 105,97 Bujur Timur. Pusat gempa pada kedalaman 23 kilometer dan lokasinya berada di 83 kilometer sebelah tenggara Ujung Kulon, Banten.
yuni itink
Selasa, 10 Mei 2011
Senin, 13 Desember 2010
Pesta Remedi
Gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
selalu saja remedi,anak ipa tapi kok yg remedi ipa semuaaaaaa!
tuhannnn,ada apa sebenarnya ini
siapa yang salah kami murid atau para guru!
tapi apa yang mau di kata,kami kurang tekun saja mendengarkan apa yang di kata oleh guru kami1
semoga saja sems depan tidak kejadian lagi1
aminnnnnnnnnnnn
selalu saja remedi,anak ipa tapi kok yg remedi ipa semuaaaaaa!
tuhannnn,ada apa sebenarnya ini
siapa yang salah kami murid atau para guru!
tapi apa yang mau di kata,kami kurang tekun saja mendengarkan apa yang di kata oleh guru kami1
semoga saja sems depan tidak kejadian lagi1
aminnnnnnnnnnnn
Rabu, 03 November 2010
Ada apa dengan alam..?
Lagi-lagi alam kembali menangis,ada apa sebenarnya.....?
Gunung yang terlihat elok nan indah kini menjadi monster yang menyebabakan manusia tidak berdaya
apa yang salah,tentu saja kita yang semakin meraja rela,tidak peduli akan nasib alam yang selama ini adalah sumber kehidupan kita semua.
Laut yang indah,dan juga menakjubkan,di mana tempat kita mencari segenggam nasi,kini malah menghantarkan kita ke alam yang lain.Keluarga yang dulu hidup bahagia kini berpisah,tak tahu di mana.
apa yang salah,alam kah...?
Tentu saja jawabannya adalah kita.kita selaku manusia selalu bersikap sewenang-wenang terhadap alam.
kini akibatnya kita yang terima.
Gunung yang terlihat elok nan indah kini menjadi monster yang menyebabakan manusia tidak berdaya
apa yang salah,tentu saja kita yang semakin meraja rela,tidak peduli akan nasib alam yang selama ini adalah sumber kehidupan kita semua.
Laut yang indah,dan juga menakjubkan,di mana tempat kita mencari segenggam nasi,kini malah menghantarkan kita ke alam yang lain.Keluarga yang dulu hidup bahagia kini berpisah,tak tahu di mana.
apa yang salah,alam kah...?
Tentu saja jawabannya adalah kita.kita selaku manusia selalu bersikap sewenang-wenang terhadap alam.
kini akibatnya kita yang terima.
Letusan Gunung Merapi
Menyusul letusan gunung merapi yang dahsyat dan sedikitnya menelan 39 orang korban jiwa banyak mata kini juga tertuju pada aktivitas gunung api lainnya di tanah air. Pasalnya kini aktivitas 20 gunung merapi di Indonesia meningkat. Tapi apakah ada keterkaitan satu sama lainnya terkait peningkatan sejumlah gunung api itu. Berikut ulasannya.
Seperti inilah letusan Gunung Papandayan pada tahun 2002 lalu. Meski tampak namun tidak sampai menimbulkan korban jiwa, karena awan panas yang dimuntahkan tidak disertai material vulcanik dari perut gunung.
Setelah beberapa lama dalam kondisi aktif normal, kini Gunung Papandayan yang terletak di cisurupan, Garut, Jawa Barat ini kembali menunjukkan aktivitas. Badan Geologi Pusat Vulcanologi dan Nitigasi bencana geologi di pos Papandayan menaikkan status dari aktif normal menjadi waspada level 2.
Berdasarkan pemantauan di pos pengamatan Papandayan sejak kemarin hingga pagi tadi, tercatat 5 kali gempa tektonik, satu kali gempa vulkanik A, dan 11 kali gempa vulcanik B.
Hal ini dirasakan warga sekitar lereng gunung yang hanya berjarak 8 kilometer dari puncak gunung. Peningkatan aktivitas vulcanik juga terjadi pada Gunung Anak Krakatau yang kini berstatus waspada.
Hanya berselang 3 hari setelah letusan pertama merapi 26 Otober lalu, terjadi 112 kali letusan pada anak gunung krakatau di Selat Sunda.
Aktivitas kegempatan dan letusan yang terjadi hingga ratusan kali setiap harinya ternyata bukan berasal dari kawah lama tapi lebih dari kawah baru yang ada di puncak gunung.
Peningkatan aktifitas 20 gunung api di Indonesia mendapat perhatian sejumlah kalangan termasuk para ahli. Selain gunung merapi yang statusnya masih awas. Saat ini tercatat 19 gunung merapi di tanah air berstatus waspada dan dua gunung api yang lain berstatus siaga.
Berbagai pihak lalu mempertanyakan, adakah kaitan diantara peningkatan aktivitas gunung berapi dengan gempa yang diikuti tsunami di Mentawai. Namun kepala bagian Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral R Sukiah mengatakan setiap gunung memiliki sistem tersendiri dan tidak saling terhubung.
Secara teoritis gempa bisa meningkatkan aktivitas gunung berapi. Tetapi belum tentu menjadi penyebab timbulnya letusan gunung. Gempa tektonik di satu pusat gempa mengirim gelombang seimik ke segala arah. Makin jauh jarak, makin lemah gelombang yang diterima.
Sementara setiap gunung berapi memiliki recervoir atau kantung magma yang akan tertekan saat ada sebuah gempa. Bila sebuah gempa yang kuat terjadi pada gunung dengan kantung magma penuh maka gunung akan meletus.
Sementara itu, kabar menyangkut peningkatan aktivitas 20 gunung berapi di Indonesia sempat membuat masyarakat cemas. Di Tasik misalnya meski masih berstatus aktif normal, namun warga yang tinggal di lereng Gunung Galunggung, di Tasik Malaya, Jawa Barat pekan lalu sempat waswas, menyusul beredarnya isyu gunung Galunggung aktif dan berbahaya.
Namun petugas menenangkan sambil meminta masyarakat sekitar lereng gunung tetap waspada.
Seperti inilah letusan Gunung Papandayan pada tahun 2002 lalu. Meski tampak namun tidak sampai menimbulkan korban jiwa, karena awan panas yang dimuntahkan tidak disertai material vulcanik dari perut gunung.
Setelah beberapa lama dalam kondisi aktif normal, kini Gunung Papandayan yang terletak di cisurupan, Garut, Jawa Barat ini kembali menunjukkan aktivitas. Badan Geologi Pusat Vulcanologi dan Nitigasi bencana geologi di pos Papandayan menaikkan status dari aktif normal menjadi waspada level 2.
Berdasarkan pemantauan di pos pengamatan Papandayan sejak kemarin hingga pagi tadi, tercatat 5 kali gempa tektonik, satu kali gempa vulkanik A, dan 11 kali gempa vulcanik B.
Hal ini dirasakan warga sekitar lereng gunung yang hanya berjarak 8 kilometer dari puncak gunung. Peningkatan aktivitas vulcanik juga terjadi pada Gunung Anak Krakatau yang kini berstatus waspada.
Hanya berselang 3 hari setelah letusan pertama merapi 26 Otober lalu, terjadi 112 kali letusan pada anak gunung krakatau di Selat Sunda.
Aktivitas kegempatan dan letusan yang terjadi hingga ratusan kali setiap harinya ternyata bukan berasal dari kawah lama tapi lebih dari kawah baru yang ada di puncak gunung.
Peningkatan aktifitas 20 gunung api di Indonesia mendapat perhatian sejumlah kalangan termasuk para ahli. Selain gunung merapi yang statusnya masih awas. Saat ini tercatat 19 gunung merapi di tanah air berstatus waspada dan dua gunung api yang lain berstatus siaga.
Berbagai pihak lalu mempertanyakan, adakah kaitan diantara peningkatan aktivitas gunung berapi dengan gempa yang diikuti tsunami di Mentawai. Namun kepala bagian Geologi Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral R Sukiah mengatakan setiap gunung memiliki sistem tersendiri dan tidak saling terhubung.
Secara teoritis gempa bisa meningkatkan aktivitas gunung berapi. Tetapi belum tentu menjadi penyebab timbulnya letusan gunung. Gempa tektonik di satu pusat gempa mengirim gelombang seimik ke segala arah. Makin jauh jarak, makin lemah gelombang yang diterima.
Sementara setiap gunung berapi memiliki recervoir atau kantung magma yang akan tertekan saat ada sebuah gempa. Bila sebuah gempa yang kuat terjadi pada gunung dengan kantung magma penuh maka gunung akan meletus.
Sementara itu, kabar menyangkut peningkatan aktivitas 20 gunung berapi di Indonesia sempat membuat masyarakat cemas. Di Tasik misalnya meski masih berstatus aktif normal, namun warga yang tinggal di lereng Gunung Galunggung, di Tasik Malaya, Jawa Barat pekan lalu sempat waswas, menyusul beredarnya isyu gunung Galunggung aktif dan berbahaya.
Namun petugas menenangkan sambil meminta masyarakat sekitar lereng gunung tetap waspada.
ada apa sebenarnya....?
hai semua........
Apa kabar,akhir-akhir ini negara kita banyak terjadi musibah ya.....
Menurut kalian semua.sebenarnya apa yang terjadi pada negara kita tercinta ini?
Apa benar kata-kata orang yang menyatakan bahwa indonesia mengalami banyak bencana akibat presiden kita.yakni SBY.
hmmmmmmmm,kalau di pikir-pikir masuk makal nggak ???
Entah lah,hanya tuhanlah yang mengetahui!
Tapi kita selaku manusia,setidaknya menjaga lingkungan alam kita.Yang semakin lama sudah semakin memburuk saja.
Adakah kita sadari semua itu..???
Jawabannya ada pada diri anda sendiri!!!!!
Apa kabar,akhir-akhir ini negara kita banyak terjadi musibah ya.....
Menurut kalian semua.sebenarnya apa yang terjadi pada negara kita tercinta ini?
Apa benar kata-kata orang yang menyatakan bahwa indonesia mengalami banyak bencana akibat presiden kita.yakni SBY.
hmmmmmmmm,kalau di pikir-pikir masuk makal nggak ???
Entah lah,hanya tuhanlah yang mengetahui!
Tapi kita selaku manusia,setidaknya menjaga lingkungan alam kita.Yang semakin lama sudah semakin memburuk saja.
Adakah kita sadari semua itu..???
Jawabannya ada pada diri anda sendiri!!!!!
Suku Baduy
Menyimak cerita rakyat khususnya di wilayah Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak umumnya sewilayah Banten maka suku Baduy berasal dari 3 tempat sehingga baik dari cara berpakaian, penampilan serta sifatnyapun sangat berbeda
I. Berasal dari Kerajaan Pajajaran / Bogor
Konon pada sekitar abad ke XI dan XII Kerajaan Pajajaran menguasai seluruh tanah Pasundan yakni dari Banten, Bogor, priangan samapai ke wilayah Cirebon, pada waktu itu yang menjadi Rajanya adalah PRABU BRAMAIYA MAISATANDRAMAN dengan gelar PRABU SILIWANGI.
Kemudian pada sekitar abad ke XV dengan masuknya ajaran Agama Islam yang dikembangkan oleh saudagar-saudagar Gujarat dari Saudi Arabia dan Wali Songo dalam hal ini adalah SUNAN GUNUNG JATI dari Cirebon, dari mulai Pantai Utara sampai ke selatan daerah Banten, sehingga kekuasaan Raja semakin terjepit dan rapuh dikarenakan rakyatnya banyak yang memasuki agama Islam. Akhirnya raja beserta senopati dan para ponggawa yang masih setia meninggalkan keraan masuk hutan belantara kearah selatan dan mengikuti Hulu sungai, mereka meninggalkan tempat asalnya dengan tekad seperti yang diucapkan pada pantun upacara Suku Baduy “ Jauh teu puguh nu dijugjug, leumpang teu puguhnu diteang , malipir dina gawir, nyalindung dina gunung, mending keneh lara jeung wiring tibatan kudu ngayonan perang jeung paduduluran nu saturunan atawa jeung baraya nu masih keneh sa wangatua”
Artinya : jauh tidak menentu yang tuju ( Jugjug ),berjalan tanpa ada tujuan, berjalan ditepi tebing, berlindung dibalik gunung, lebih baik malu dan hina dari pada harus berperang dengan sanak saudara ataupun keluarga yang masih satu turunan “
Keturunan ini yang sekarang bertempat tinggal di kampong Cibeo ( Baduy Dalam )
dengan cirri-ciri : berbaju putih hasil jaitan tangan ( baju sangsang ), ikat kepala putih, memakai sarung biru tua ( tenunan sendiri ) sampai di atas lutut, dan sipat penampilannya jarang bicara ( seperlunya ) tapir amah, kuat terhadap Hukum adat, tidak mudah terpengaruh, berpendirian kuat tapi bijaksana.
II. Berasal dari Banten Girang/Serang
Menurut cerita yang menjadi senopati di Banten pada waktu itu adalah putra dari Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Seda dengan gelar Prabu Pucuk Umun setelah Cirebon dan sekitarnya dikuasai oleh Sunan Gunung Jati, maka beliau mengutus putranya yang bernama Sultan Hasanudin bersama para prajuritnya untuk mengembangkan agama Islam di wilayah Banten dan sekitarnya. Sehingga situasi di Banten Prabu Pucuk Umun bersama para ponggawa dan prajurutnya meninggalkan tahta di Banten memasuki hutan belantara dan menyelusuri sungai Ciujung sampai ke Hulu sungai , maka tempat ini mereka sebut Lembur Singkur Mandala Singkah yang maksudnya tempat yang sunyi untuk meninggalkan perang dan akhirnya tempat ini disebut GOA/ Panembahan Arca Domas yang sangat di keramatkan .
Keturunan ini yang kemudian menetap di kampung Cikeusik ( Baduy Dalam ) dengan Khas sama dengan di kampong Cikeusik yaitu : wataknya keras,acuh, sulit untuk diajak bicara ( hanya seperlunya ), kuat terhadap hukum Adat, tidak mudah menerima bantuan orang lain yang sifatnya pemberian, memakai baju putih ( blacu ) atau dari tenunan serat daun Pelah, iket kepala putih memakai sarung tenun biru tua ( diatas lutut ).
III. Berasala dari Suku Pangawinan ( campuran )
Yang dimaksud suku Pengawinan adalah dari percampuran suku-suku yang pada waktu itu ada yang berasal dari daerah Sumedang, priangan, Bogor, Cirebon juga dari Banten. Jadi kebanyakanmereka itu terdiri dari orang-orang yang melangggar adat sehingga oleh Prabu Siliwangi dan Prabu Pucuk Umun dibuang ke suatu daerah tertentu. Golongan inipun ikut terdesak oleh perkembangan agama Islam sehingga kabur terpencar kebeberapa daerah perkampungan tapi ada juga yang kabur kehutan belantara, sehingga ada yang tinggal di Guradog kecamatan Maja, ada yang terus menetap di kampong Cisungsang kecamatan Bayah, serta ada yang menetap di kampung Sobang dan kampong Citujah kecamatan Muncang, maka ditempat-tempat tersebut di atas masih ada kesamaan cirikhas tersendiri. Adapun sisanya sebagian lagi mereka terpencar mengikuti/menyusuri sungai Ciberang, Ciujung dan sungai Cisimeut yang masing-masing menuju ke hulu sungai, dan akhirnya golongan inilah yang menetap di 27 perkampungan di Baduy Panamping ( Baduy Luar ) desa Kanekes kecamatan Leuwidamar kabupaten Lebak dengan cirri-cirinya ; berpakaian serba hitam, ikat kepala batik biru tua, boleh bepergian dengan naik kendaraan, berladang berpindah-pindah, menjadi buruh tani, mudah diajak berbicara tapi masih tetap terpengaruh adanya hukum adat karena merekan masih harus patuh dan taat terhadap Hukum adat.
Dari suku Baduy panamping pada tahun 1978 oleh pemerintah diadakan proyek PKMT ( pemukiman kembali masyarakat terasing ) yang lokasinya di kampung Margaluyu dan Cipangembar desa Leuwidamar kecamatan Leuwidamar dan terus dikembangkan oleh pemerintah proyek ini di kampung Kopo I dan II, kampung Sukamulya dan kampung Sukatani desa Jalupangmulya kecamatan Leuwidamar .
Suku Baduy panamping yang telah dimukimkan inilah yang disebut Baduy Muslim, dikarenakan golongan ini telah memeluk agama Islam, bahkan ada yang sudah melaksanakan rukun Islam yang ke 5 yaitu memunaikan ibadah Haji.
Kini sebutan bagi suku Baduy terdiri dari :
1. Suku Baduy Dalam yang artinya suku Baduy yang berdomisili di Tiga Tangtu ( Kepuunan ) yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikertawana.
2. Suku Baduy Panamping artinya suku Baduy yang bedomisili di luar Tangtu yang menempati di 27 kampung di desa Kanekes yang masih terikatoleh Hukum adat dibawah pimpinan Puuun ( kepala adat ).
3. Suku Baduy Muslim yaitu suku Baduy yang telah dimukimkan dan telah mengikuti ajaran agama Islam dan prilakunya telah mulai mengikuti masyarakat luar serta sudah tidak mengikuti Hukum adat.
Adapun sebutan siku Baduy menurut cerita adalah asalnya dari kata Badui, yakni sebutan dari golongan/ kaum Islam yang maksudnya karena suku itu tidak mau mengikuti dan taat kepada ajaran agama Islam, sedangkan disaudi Arabia golongan yang seperti itu disebut Badui maksudnya golongan yang membangkang tidak mau tunduk dan sulit di atur sehingga dari sebutan Badui inilah menjadi sebutan Suku Baduy.
APA YANG ADA DI DALAM PIKIRAN ANDA..??
I. Berasal dari Kerajaan Pajajaran / Bogor
Konon pada sekitar abad ke XI dan XII Kerajaan Pajajaran menguasai seluruh tanah Pasundan yakni dari Banten, Bogor, priangan samapai ke wilayah Cirebon, pada waktu itu yang menjadi Rajanya adalah PRABU BRAMAIYA MAISATANDRAMAN dengan gelar PRABU SILIWANGI.
Kemudian pada sekitar abad ke XV dengan masuknya ajaran Agama Islam yang dikembangkan oleh saudagar-saudagar Gujarat dari Saudi Arabia dan Wali Songo dalam hal ini adalah SUNAN GUNUNG JATI dari Cirebon, dari mulai Pantai Utara sampai ke selatan daerah Banten, sehingga kekuasaan Raja semakin terjepit dan rapuh dikarenakan rakyatnya banyak yang memasuki agama Islam. Akhirnya raja beserta senopati dan para ponggawa yang masih setia meninggalkan keraan masuk hutan belantara kearah selatan dan mengikuti Hulu sungai, mereka meninggalkan tempat asalnya dengan tekad seperti yang diucapkan pada pantun upacara Suku Baduy “ Jauh teu puguh nu dijugjug, leumpang teu puguhnu diteang , malipir dina gawir, nyalindung dina gunung, mending keneh lara jeung wiring tibatan kudu ngayonan perang jeung paduduluran nu saturunan atawa jeung baraya nu masih keneh sa wangatua”
Artinya : jauh tidak menentu yang tuju ( Jugjug ),berjalan tanpa ada tujuan, berjalan ditepi tebing, berlindung dibalik gunung, lebih baik malu dan hina dari pada harus berperang dengan sanak saudara ataupun keluarga yang masih satu turunan “
Keturunan ini yang sekarang bertempat tinggal di kampong Cibeo ( Baduy Dalam )
dengan cirri-ciri : berbaju putih hasil jaitan tangan ( baju sangsang ), ikat kepala putih, memakai sarung biru tua ( tenunan sendiri ) sampai di atas lutut, dan sipat penampilannya jarang bicara ( seperlunya ) tapir amah, kuat terhadap Hukum adat, tidak mudah terpengaruh, berpendirian kuat tapi bijaksana.
II. Berasal dari Banten Girang/Serang
Menurut cerita yang menjadi senopati di Banten pada waktu itu adalah putra dari Prabu Siliwangi yang bernama Prabu Seda dengan gelar Prabu Pucuk Umun setelah Cirebon dan sekitarnya dikuasai oleh Sunan Gunung Jati, maka beliau mengutus putranya yang bernama Sultan Hasanudin bersama para prajuritnya untuk mengembangkan agama Islam di wilayah Banten dan sekitarnya. Sehingga situasi di Banten Prabu Pucuk Umun bersama para ponggawa dan prajurutnya meninggalkan tahta di Banten memasuki hutan belantara dan menyelusuri sungai Ciujung sampai ke Hulu sungai , maka tempat ini mereka sebut Lembur Singkur Mandala Singkah yang maksudnya tempat yang sunyi untuk meninggalkan perang dan akhirnya tempat ini disebut GOA/ Panembahan Arca Domas yang sangat di keramatkan .
Keturunan ini yang kemudian menetap di kampung Cikeusik ( Baduy Dalam ) dengan Khas sama dengan di kampong Cikeusik yaitu : wataknya keras,acuh, sulit untuk diajak bicara ( hanya seperlunya ), kuat terhadap hukum Adat, tidak mudah menerima bantuan orang lain yang sifatnya pemberian, memakai baju putih ( blacu ) atau dari tenunan serat daun Pelah, iket kepala putih memakai sarung tenun biru tua ( diatas lutut ).
III. Berasala dari Suku Pangawinan ( campuran )
Yang dimaksud suku Pengawinan adalah dari percampuran suku-suku yang pada waktu itu ada yang berasal dari daerah Sumedang, priangan, Bogor, Cirebon juga dari Banten. Jadi kebanyakanmereka itu terdiri dari orang-orang yang melangggar adat sehingga oleh Prabu Siliwangi dan Prabu Pucuk Umun dibuang ke suatu daerah tertentu. Golongan inipun ikut terdesak oleh perkembangan agama Islam sehingga kabur terpencar kebeberapa daerah perkampungan tapi ada juga yang kabur kehutan belantara, sehingga ada yang tinggal di Guradog kecamatan Maja, ada yang terus menetap di kampong Cisungsang kecamatan Bayah, serta ada yang menetap di kampung Sobang dan kampong Citujah kecamatan Muncang, maka ditempat-tempat tersebut di atas masih ada kesamaan cirikhas tersendiri. Adapun sisanya sebagian lagi mereka terpencar mengikuti/menyusuri sungai Ciberang, Ciujung dan sungai Cisimeut yang masing-masing menuju ke hulu sungai, dan akhirnya golongan inilah yang menetap di 27 perkampungan di Baduy Panamping ( Baduy Luar ) desa Kanekes kecamatan Leuwidamar kabupaten Lebak dengan cirri-cirinya ; berpakaian serba hitam, ikat kepala batik biru tua, boleh bepergian dengan naik kendaraan, berladang berpindah-pindah, menjadi buruh tani, mudah diajak berbicara tapi masih tetap terpengaruh adanya hukum adat karena merekan masih harus patuh dan taat terhadap Hukum adat.
Dari suku Baduy panamping pada tahun 1978 oleh pemerintah diadakan proyek PKMT ( pemukiman kembali masyarakat terasing ) yang lokasinya di kampung Margaluyu dan Cipangembar desa Leuwidamar kecamatan Leuwidamar dan terus dikembangkan oleh pemerintah proyek ini di kampung Kopo I dan II, kampung Sukamulya dan kampung Sukatani desa Jalupangmulya kecamatan Leuwidamar .
Suku Baduy panamping yang telah dimukimkan inilah yang disebut Baduy Muslim, dikarenakan golongan ini telah memeluk agama Islam, bahkan ada yang sudah melaksanakan rukun Islam yang ke 5 yaitu memunaikan ibadah Haji.
Kini sebutan bagi suku Baduy terdiri dari :
1. Suku Baduy Dalam yang artinya suku Baduy yang berdomisili di Tiga Tangtu ( Kepuunan ) yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikertawana.
2. Suku Baduy Panamping artinya suku Baduy yang bedomisili di luar Tangtu yang menempati di 27 kampung di desa Kanekes yang masih terikatoleh Hukum adat dibawah pimpinan Puuun ( kepala adat ).
3. Suku Baduy Muslim yaitu suku Baduy yang telah dimukimkan dan telah mengikuti ajaran agama Islam dan prilakunya telah mulai mengikuti masyarakat luar serta sudah tidak mengikuti Hukum adat.
Adapun sebutan siku Baduy menurut cerita adalah asalnya dari kata Badui, yakni sebutan dari golongan/ kaum Islam yang maksudnya karena suku itu tidak mau mengikuti dan taat kepada ajaran agama Islam, sedangkan disaudi Arabia golongan yang seperti itu disebut Badui maksudnya golongan yang membangkang tidak mau tunduk dan sulit di atur sehingga dari sebutan Badui inilah menjadi sebutan Suku Baduy.
APA YANG ADA DI DALAM PIKIRAN ANDA..??
Lau debuk-debuk
Lau Debuk-debuk is a village that has hot springs with sulfur content, much visited by tourists to enjoy the warmth of sulfur water in the atmosphere cool mountain air. The village is situated approximately 10 km away from New Airport to Brastagi, at the foot of the mountain Sibayak which has an altitude of about 2100 km from the sea surface
Tourist area of this volcano is located at an altitude of 1500 meters above sea level lk. and located in the southern volcano Sibayak, including into the village and Semangatgunung Daulu, Karo regency. This area is already a tourist area and is the Cross volcano to climb to the volcanic nature Sibayak. This location can be reached from the city Brastagi using 4-wheel vehicles. Hot springs emerge through the cracks of lava flows on the south slopes of the volcano Sibayak. Hot springs are then accommodated within the ponds. Bathing pool management is done by the Local Government Karo regency and the local community.
Hot spring pool managed by the Regional Government Karo regency, is located in the village Daulu. The swimming baths there are 5 pieces with water temperature 350 C and air temperature was about 270 C. There are several ponds in this village like a bath of natural hot spring pools Sibayak, which is managed by the local community and visitors crowded at this time. Most climbers take advantage of many hot water pools is to release kepenatannya during ascent by wading in the pond.
Tourist area of this volcano is located at an altitude of 1500 meters above sea level lk. and located in the southern volcano Sibayak, including into the village and Semangatgunung Daulu, Karo regency. This area is already a tourist area and is the Cross volcano to climb to the volcanic nature Sibayak. This location can be reached from the city Brastagi using 4-wheel vehicles. Hot springs emerge through the cracks of lava flows on the south slopes of the volcano Sibayak. Hot springs are then accommodated within the ponds. Bathing pool management is done by the Local Government Karo regency and the local community.
Hot spring pool managed by the Regional Government Karo regency, is located in the village Daulu. The swimming baths there are 5 pieces with water temperature 350 C and air temperature was about 270 C. There are several ponds in this village like a bath of natural hot spring pools Sibayak, which is managed by the local community and visitors crowded at this time. Most climbers take advantage of many hot water pools is to release kepenatannya during ascent by wading in the pond.
Langganan:
Postingan (Atom)